ALI RIDHO LAPATAU
Loading...

Rabu, 30 Maret 2011

NYANYIAN UNTUK TUHAN


NYANYIAN UNTUK TUHAN

By : Ali Ridha Lapatau  
Selasa, 31-3-2011


Aku ada karena engKAU ada
EngKAU ada karena aku ada
Cintaku padaMU kurasakan sepi
Yang berujung nikmat memandang CahayaMU

            Tiada antaraku antaraMU antara
            Sehingga senantiasa KAU bisikkan sifatMU
            Engkau senang memandangku sabar
            Mesrah bercanda dalam cermin kalbu yang suci
           
 Reff  :
Reff.         Wafi anfusikum afala tubsirun
    Ya Allah bukakan tabir suciMU
    Wanahnu aqrabul ilaihi min hablil warid
    Akan selalu mencari gembiraMU

     ***      Mari berzikir mari bersholawat
     Untuk Allah dan KekasihNYA
     ****    lailaha illalah 3x ..Muahammadun rasulullah 1x
                                   
Berikanlah aku kekuatan iman
                        Untuk menghindar dari yang KAU cela
                        Aku ingin kuat, aku ingin tegar
                        Bagai Sandeq Mandar melawan arus gelombang
Back to reff..


“ Kalbul mu’minin baitullah”
Artinya : dihati orang-orang yang beriman adalah rumahnya Allah
                                   
           




Rabu, 02 Februari 2011

ANDAI AKU SEORANG BUPATI


To the point saja, seandainya saya seorang bupati, saya sudah menyiapkan strategi politik seperti ini.

Pertama, birokrasi harus tetap menjadi mesin politik yang efektif bagi saya. Selain sebagai Bupati, menjadi pimpinan partai di daerah adalah keuntungan tersendiri buat saya. Partai ini sudah 32 tahun mengangkangi birokrasi. Akar-akarnya sudah kuat. Saya tinggal meneruskan, termasuk budaya intimidasinya. Toh, PNS daerah sepenuhnya merupakan wewenang saya untuk mengelolanya. Saya akan mutasikan pejabat-pejabat, termasuk kepala sekolah, yang membelot.
Selain dapat menggiring para PNS dan kerabatnya, mesin birokrasi juga cukup efektif dalam menggarap para pemilih pemula. Jumlah mereka puluhan ribu. Mereka adalah anak-anak SMA. Ya. Dengan memanfaatkan birokrasi pendidikan, para pemilih paling potensial ini akan bisa saya rangkul. Caranya mudah. Saya cukup membuat program-program yang dapat membangkitkan mimpi dan semangat mereka. Salah satunya adalah program beasiswa. Saya akan menciptakan kesan, bahwa saya adalah harapan baru bagi mereka yang ingin bersekolah. Mereka akan mengenang saya sebagai pahlawan pendidikan di daerah ini. Mereka akan memilih dan mempertahankan saya.

Ke dua, tidak cukup dengan birokrasi, kaum santri pun harus bisa saya rangkul. Birokrasi belum sepenuhnya efektif, untuk menarik dukungan mayoritas masyarakat. Kiyai, khususnya yang memiliki jamaah cukup banyak, masih menjadi figur sentral di dalam masyarakat feodal, seperti di daerah saya ini. Karenanya, pesantren, madrasah, mesjid-mesjid yang besar, harus saya perhatikan. Sumbangan harus saya berikan. Kalau pun tidak cukup anggaran, minimal saya fasilitasi kiyainya. Saya undang dia untuk memberikan ceramah di rumah dinas saya. Saya berikan kemudahan protokoler, jika kiyai-kiyai mau bertemu dengan saya.

Ke tiga, birokrasi dan kaum santri belumlah cukup, sebelum pers bisa saya kendalikan. Saya yakin ini bukan perkara yang sulit. Alasannya sederhana. Pertama, pers kita masih sibuk dengan urusan nasional. Persoalan daerah hanya mendapat porsi yang relatif kecil, kecuali kalau itu menyangkut mega-skandal daerah. Ke dua, sebagai konsekuensi dari alasan pertama, pers yang menyoroti daerah secara khusus hanya pers lokal. Mengendalikan pers lokal, tentu mudah. Apalagi, saya juga bisa menciptakan semacam buletin atau tabloid rutin yang menjadi corong informasi kebijakan daerah.
Pers akan menjadi mesin pencitraan yang efektif bagi figur saya. Ya, yang penting figur saya dulu ditonjolkan. Berikutnya baru program-program saya. Setiap keberhasilan, bahkan yang kecil sekalipun, harus terangkat ke permukaan. Apalagi program-program mercusuar. Sebaliknya, borok-borok pemerintahan, tak boleh mencuat. Tak sehelai pun! APBD tidak akan saya buka ke publik. Itu sangat beresiko.

Ke empat, suara LSM dan mahasiswa harus saya bungkam. Yang saya tahu, sebagian besar LSM sebenarnya hanya mencari sesuap nasi. Paling banter: sepotong kursi. Mudah bukan? Mahasiswa, meskipun lebih lugu, tak banyak trik, tetapi sedikit lebih sulit dikendalikan. Idealisme rapuh mereka cukup membuat bising telinga, jika mereka sudah ngoceh. Tapi tak perlu risau, mahasiswa mana sih, sekarang ini, yang masih punya taring? Cukup kucurkan dana kesekretariatan dan perlicin proposal-proposal kegiatan mereka. Pasti semuanya beres.
Kalau masih belum cukup, saya tinggal pegang tengkuk pentolan-pentolannya. Saya perlakukan seperti LSM: sesuap nasi atau sepotong kursi. Usai sudah. Kalau mereka masih ngeyel, saya akan siapkan senjata pamungkas: buat gerakan tandingan! Saya akan kerahkan massa yang akan menandingi gerakan mereka.

Ke lima, saya tidak akan memelihara macan. SBY tergolong lambat menyadari bahaya ini. Saya tidak akan memberi ruang bagi wakil saya untuk bermanuver: memanfaatkan jabatannya untuk menggerogoti popularitas saya, atau mengerek popularitas dia. Ada dua cara yang bisa saya lakukan. Pertama, saya akan membatasi kewenangan dia pada hal-hal yang sifatnya administratif, intern pemerintahan. Jangan sampai dia menangani program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ke dua, saya akan membuat figur dia tidak dikenal oleh masyarakat. Karenanya, dalam media publikasi, baik spanduk, baliho, sticker, kalender, atau lainnya, saya tidak akan memasang foto wakil saya. Lebih baik saya pasang foto isteri saya. Sekalipun itu program Pemerintah, bukan partai! Dengan begitu, siapa tahu, kalau saya tidak bisa lagi menjabat karena undang-undang, isteri saya bisa menggantikan saya, bukan wakil saya.
Ke enam, DPRD harus berdiri sejajar dengan saya. Tak ada celah bagi munculnya oposisi. Caranya mudah. Dalam RAPBD, saya akan usulkan berbagai tunjangan bagi anggota DPRD. Dari partai apa pun mereka, saya tak peduli. Saya yakin, identitas kader partai adalah nomor dua. Sebagian besar mereka adalah kader-kader bagi kepentingan pribadinya, bukan partai. Partai hanya kendaraan bagi mereka untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi. Karenanya, pahami kebutuhan pribadi mereka, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Ke tujuh, dan ini adalah strategi penyempurna, saya akan mewariskan kekuasaan ini pada keturunan saya. Suatu saat, anak saya harus meneruskan estafet kepemimpinan di daerah ini. Saya akan mengkadernya dari sekarang. Organisasi-organisasi pemuda, khususnya yang merupakan sayap partai, akan saya berikan pada anak saya. Saya akan bawa dia silaturahim ke berbagai pengurus cabang, sebagai pengenalan awal sekaligus sosialisasi agar anak saya kelak juga terpilih menjadi ketua pengurus daerah partai ini. Karir politiknya akan saya katrol, dengan mencalonkannya menjadi anggota legislatif daerah, bila perlu pusat, sebelum dia mencalonkan jadi bupati. Saya yakin, nama besar saya bisa jadi jaminan bagi karir politik dia.

Dengan strategi politik seperti ini, apakah Anda akan mendukung saya? Anda  tidak perlu repot-repot menjawab pertanyaan ngawur ini.

Senin, 24 Januari 2011

VIDEO LUCU MOP PAPUA "Epen kah.. Cupen toh.."

Setelah beberapa hari ini kami mengupdate postingan blog dengan berbagai berita dan karya yang terkesan sangat serius, hari ini kami akan kembali memposting info namun konten hari ini adalah sebuah video lucu karya anak Papua yang mengangkat cerita-cerita MOP Papua (Anekdot Khas Papua) yang dikemas dalam sebuah sketsa hidup antara si Epen kah... dan Cupento dimana keduanya adalah pasangan multi humor, dan MOP Papua ini sudah ditayangkan di Merauke TV setiap harinya, atas permintaan rakyat Papua video ini rencananya akan di kemas dan dipasarkan dalam bentuk DVD/VCD.
Sukses buat Epenkah dan Cupento semoga karyanya semakin banyak diminati dan dinikmati, dan tak lupa buat semua pihak yang terlibat didalam penggarapan video ini, Rakyat Indonesia menunggu....bukan cuma Papua saja loh....hehehe

Biar ga cape' searching satu-satu atau bagian-bagian filmnya ada baiknya kita nonton di Kaskus.com (asik ko' ga macet)  PENASARAN..............,click disini UNTUK MELIHAT VIDEO dan siap-siap TERTAWA HAHAHAHAHAHA........

JANGAN LUPA Klik Show pada button Spoilernya...OK

Jumat, 21 Januari 2011

DOWNLOAD LAGU ANDAI AKU GAYUS TAMBUNAN

ANDAI ku Gayus Tambunan....
Yang bisa pergi ke Bali....
Semua keinginannya... pasti bisa terpenuhi....
Lucunya di negeri ini....
Hukuman bisa dibeli....
Kita orang yang lemah... pasrah akan keadaan

diatas adalah sepenggal lyirik lagu Andai aku jadi Gayus tambunan yang dilantunkan oleh Bona paptungan mantan napi Gorontalo yang dirilis di Youtube.com kian menarik masyarakat dimana lagu itu diciptakan saat Bona dalam tahanan.

Mau download lagu mp3 andai aku gayus tambunan click download lagu disini

Sabtu, 08 Januari 2011

MUKADDIMAH TULISAN BELAJAR DARI CERITA GARAM & TELAGA

Oleh : Ali Ridha Lapatau 
Bontang,07 Januari 2011 

Selamat Siang semuanya semoga hari ini tetap dan selalu menjadi hari - hari yang menyenagkan buat kita...
Sampai saat ini saya masih sangat bingung mau menulis apa di Blog ini, namun tak hentinya usaha dan upaya saya lakukan agar keinginan menulis bisa terelisasi waupun hanya lewat media Blog sederhana ini karena menurut saya ketika seseorang masih beraktifitas dan berfikir, sejatinya juga mempunyai warna warni perjalanan hidupnynya dan proses inilah yang sebenarnya bisa kita tuliskan, walau kita nantinya tak bisa sehebat J.K. Rowling, Stephen King, John Grisham, Habiburrahman El-Shirazy, Asma Nadia, Budi Dharma, Seno Gumira Ajidarma, Gus TF Sakai, Andrea Hirata, Afifah Afra, dan lainnya namun yakinlah realisasi suatu keinginan adalah awal dari kesuksesan, keinginan berbuat sesuatu, mungkin hari ini tidak dibutuhkan tapi yakinlah apa yang kita tulis hari ini akan menjadi salah satu gambaran proses hidup dan semakin memperjelas keindahan perbedaan.


Sebagai pembuka, mari kita menyimak satu cerita dibawah..semoga bermanfaat

Garam & Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
“Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu,
Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar”, sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Rabu, 05 Januari 2011

AYO KE POLEWALI MANDAR

Polewali Mandar merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Barat, Di sinilah aku sekarang tinggal dan bekerja… berikut sekilas tentang kabupaten polman…
Sulawesi Barat adalah provinsi pengembangan dari Provinsi Sulawesi Selatan yang dibentuk pada tahun 2004 dengan ibukota Mamuju, terdiri atas Kabupaten Polewali Mandar, Mamasa, Majene, Mamuju, dan Mamuju Utara. Penduduknya terdiri dari suku Mandar, Toraja, Bugis, Jawa, Makassar dan lainnya. Terdapat enam bahasa daerah yang umum digunakan, masing-masing Mandar, Toraja, Bugis, Makasar, Jawa dan Bali. Suku Mandar adalah pelaut-pelaut yang ulung, ketika berlayar mereka bersikap pantang menyerah.
Provinsi ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang bervariasi mulai pertambangan emas, batubara, dan minyak bumi, bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan, serta hasil kehutanan, dan kelautan. Selain kakao, daerah ini juga dikenal sebagai penghasil kopi robusta atau kopi arabika, kelapa, dan cengkeh.
Daya tarik wisata yang berkembang Pantai Manakarra di Kota Mamuju dan Pantai Palippis di Kabupaten Polewali Mandar yang menghadap langsung ke Pulau Kalimantan. Obyek unik di pantai Polewali yang dapat dilihat wisatawan adalah kegiatan pembuatan perahu Sandeq khas masyarakat suku Mandar. Selain itu, terdapat acara tahunan pada saat Maulid Nabi, berupa Pesta Adat Sayyang Pattudu yang merupakan acara untuk bersyukur bagi anak-anak suku Mandar yang telah khatam Al-Quran. Acara ini dilakukan dengan cara arak-arakan berkeliling  menggunakan kuda.
Provinsi ini dapat dicapai melalui empat pelabuhan laut yaitu Belang-belang, Polewali, Majene, dan Mamuju, atau melalui jalan darat dari Makassar.
ADA APA SAJA???

A. Sayyang Pattudu

Sayyang Pattudu (kuda menari), begitulah masyarakat suku Mandar, Sulawesi Barat menyebut acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak-anak yang khatam (tamat) Al-Qur‘an. Bagi warga suku Mandar, tamatnya anak-anak mereka membaca 30 juz Al-Quran merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus dengan mengadakan pesta adat Sayyang Pattudu. Pesta ini biasanya digelar sekali dalam setahun, bertepatan dengan bulan Maulid/Rabi‘ul Awwal (kalender Hijriyah). Pesta tersebut menampilkan atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak-anak yang mengikuti acara tersebut.
Bagi masyarakat Mandar, khatam Al-Qur‘an dan acara adat Sayyang Pattudu memiliki pertalian erat antara satu dengan lainnya. Acara ini tetap mereka lestarikan dengan baik, bahkan masyarakat suku Mandar yang berdiam di luar Sulawesi Barat dengan sukarela akan kembali ke kampung halamannya demi mengikuti acara tersebut. Penyelenggaran pesta adat ini sudah berlangsung cukup lama, tetapi tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali dilaksanakan. Jejak sejarah yang menunjukkan awal pelaksanaan kegiatan sampai sekarang juga belum terdeteksi oleh para sejarawan dan tokoh masyarakat.

Keistimewaan

Puncak acara khatam Al-Qur‘an dengan menggelar pesta adat Sayyang Pattudu memiliki daya tarik tersendiri. Acara ini diramaikan dengan arak-arakan kuda mengelilingi desa yang dikendarai oleh anak-anak yang telah menyelesaikan khatam Al Quran. Setiap anak mengendarai kuda yang sudah dihias sedemikian rupa. Kuda-kuda tersebut juga sudah terlatih untuk mengikuti irama pesta dan mampu berjalan sembari menari mengikuti iringan musik, tabuhan rebana, dan untaian pantun khas Mandar yang mengiringi arak-arakan tersebut.
Ketika duduk di atas kuda, para peserta yang ikut Sayyang Pattudu akan mengikuti tata atur baku yang berlaku secara turun temurun. Dalam Sayyang Pattudu, para peserta duduk dengan satu kaki ditekuk ke belakang, lutut menghadap ke depan, sementara satu kaki yang lainnya terlipat dengan lutut dihadapkan ke atas dan telapak kaki berpijak pada punggung kuda. Dengan posisi seperti itu, para peserta didampingi agar keseimbangannya terpelihara ketika kuda yang ditunggangi menari. Peserta Sayyang Pattudu akan mengikuti irama liukan kuda yang menari dengan mengangkat setengah badannya ke atas sembari menggoyang-goyangkan kaki dan menggeleng-gelengkan kepala agar tercipta gerakan yang harmonis dan menawan.
Ketika acara sedang berjalan meriah, tuan rumah dan kaum perempuan sibuk menyiapkan aneka hidangan dan kue-kue untuk dibagikan kepada para tamu. Ruang tamu dipenuhi dengan aneka hidangan yang tersaji di atas baki yang siap memanjakan selera para tamu yang datang pada acara tersebut.
Rangkaian acara tahunan ini, biasanya diikuti lebih dari 50 peserta tiap tahunnya. Biasanya, para peserta terhimpun dari berbagai kampung yang ada di desa tersebut. Diantara para peserta ada yang datang khusus dari desa sebelah, bahkan ada juga yang datang dari luar kabupaten, maupun luar Provinsi Sulawesi Barat.

Lokasi

Pesta adat Sayyang Pattudu biasanya diadakan di Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia.

Akses

Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kota Polewali Ibu Kota Kabupaten Poleweli Mandar, Sulawesi Barat dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit. Setelah sampai di Kota Poleweli, kemudian perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang berjarak sekitar 52 km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Harga Tiket

Tidak di pungut biaya.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di Desa Karama, tempat pesta adat ini dilaksanakan, belum ada hotel untuk menginap bagi para wisatawan yang datang dari luar daerah. Tapi tidak usah gundah, sebab masyarakat setempat membuka pintu rumah mereka bagi tamu yang datang ke daerah tersebut untuk menyaksikan pesta adat Sayyang Pattudu. Begitu juga untuk makanan, para wisatawan akan mendapatkan suguhan yang memuaskan dengan beraneka makanan yang disediakan oleh tuan rumah untuk menyambut tamu.
Info HOTEL  di Polewali Mandar:
  1. Hotel Ratih GUEST HOUSE MELATI Jl. Achmad Yani No. 91 Polewali  (62-428 ) 213 57
  2. Hotel Lilianto Jl. Achmad Yani  di  Polewali
  3. WISMA DIRJA Jl. Olahraga No. 16 Polewali     (62-428 ) 212 92
  4. MAMASA COTTAGE Jl. Mamasa Polewali
  5. LOSMEN MERY Jl. Mesjid Jami No. 5 Polewali. (62-428 ) 211 44 POLEWALI
  6. INDAH HOTEL Jl. Mangundang No. 30 Polewali     (62-428 ) 214 37.
  7. Dan beberapa hotel Lain disekitar Pusat Perkantoran Pemerintah Polewali dan juga Pusat Perdagangan Wonomulyo  yang jaraknya dari Polewali sekitar 20 menit.
div>            <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">A. Selayang Pandangspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Sayyang Pattudu (kuda menari), begitulah masyarakat suku Mandar,  Sulawesi Barat menyebut acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak-anak  yang khatam (tamat) Al-Qur‘an. Bagi warga suku Mandar, tamatnya anak-anak  mereka membaca 30 juz Al-Quran<i> i>merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga  perlu disyukuri secara khusus dengan<i> i>mengadakan pesta adat<i> i>Sayyang  Pattudu<i>.i> Pesta ini<strong><span style="font-family: Verdana; font-weight: normal;"> biasanya digelar sekali dalam setahun, bertepatan  dengan bulan Maulid/<i>Rabi‘ul Awwali> (kalender Hijriyah). Pesta tersebut menampilkan  atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak-anak yang mengikuti  acara tersebut.span>strong>span>p><p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;">    p><p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Bagi masyarakat  Mandar, khatam Al-Qur‘an dan acara adat Sayyang Pattudu memiliki pertalian erat  antara satu dengan lainnya. Acara ini tetap mereka lestarikan dengan baik,  bahkan masyarakat suku Mandar yang berdiam di luar Sulawesi Barat dengan  sukarela akan kembali ke kampung halamannya demi mengikuti acara tersebut. Penyelenggaran  pesta adat ini sudah berlangsung cukup lama, tetapi tidak ada yang tahu pasti kapan  pertama kali dilaksanakan. Jejak sejarah yang menunjukkan awal pelaksanaan  kegiatan sampai sekarang juga belum terdeteksi oleh para sejarawan dan tokoh  masyarakat.span>p>    <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">B. Keistimewaanspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Puncak acara khatam Al-Qur‘an dengan menggelar pesta adat Sayyang  Pattudu memiliki daya tarik tersendiri. Acara ini diramaikan dengan arak-arakan  kuda mengelilingi desa yang dikendarai oleh anak-anak yang telah menyelesaikan khatam  Al Quran. Setiap anak mengendarai kuda yang sudah dihias sedemikian rupa.  Kuda-kuda tersebut juga sudah terlatih untuk mengikuti irama pesta dan mampu  berjalan sembari menari mengikuti iringan musik, tabuhan rebana, dan untaian  pantun khas Mandar yang mengiringi arak-arakan tersebut. span>p>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Ketika duduk di atas kuda<i>,i> para peserta<i> i>yang ikut<i> i>Sayyang  Pattudu akan mengikuti tata atur baku  yang berlaku secara turun temurun. Dalam Sayyang Pattudu, para peserta duduk  dengan satu kaki ditekuk ke belakang, lutut menghadap ke depan, sementara satu  kaki yang lainnya terlipat dengan lutut dihadapkan ke atas dan telapak kaki  berpijak pada punggung kuda. Dengan posisi seperti itu, para peserta didampingi  agar keseimbangannya terpelihara ketika kuda yang ditunggangi menari. Peserta Sayyang  Pattudu<strong><span style="font-family: Verdana; font-weight: normal;"> akan span>strong>mengikuti irama liukan kuda yang  menari dengan mengangkat setengah badannya ke atas sembari menggoyang-goyangkan  kaki dan menggeleng-gelengkan kepala agar tercipta gerakan yang harmonis dan  menawan.span>p>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Ketika acara sedang berjalan meriah, tuan rumah dan kaum perempuan sibuk  menyiapkan aneka hidangan dan kue-kue untuk dibagikan kepada para tamu. Ruang  tamu dipenuhi dengan aneka hidangan yang tersaji di atas baki yang siap memanjakan  selera para tamu yang datang pada acara tersebut.<b>b>span>p>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Rangkaian acara tahunan ini, biasanya diikuti lebih dari 50 peserta tiap  tahunnya. Biasanya, para peserta terhimpun dari berbagai kampung yang ada di  desa tersebut. Diantara para peserta ada yang datang khusus dari desa sebelah, bahkan  ada juga yang datang dari luar kabupaten, maupun luar Provinsi Sulawesi Barat.span>p>        <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">C. Lokasispan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Pesta adat Sayyang Pattudu biasanya diadakan di Desa Karama, Kecamatan  Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, <st1:country-region w:st="on">Indonesiast1:country-region>.<b>b>span>p>    <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">D. Aksesspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum  atau kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari  Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan  kemudian dilanjutkan ke Kota Polewali Ibu Kota Kabupaten Poleweli Mandar,  Sulawesi Barat dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit. Setelah sampai di Kota Poleweli,  kemudian perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang berjarak sekitar 52 km dengan  waktu tempuh sekitar 45 menit. span>p>    <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">E. Harga Tiketspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Tidak di pungut biaya.span>p>    <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnyaspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Di Desa Karama, tempat pesta adat ini dilaksanakan, belum ada hotel  untuk menginap bagi para wisatawan yang datang dari luar daerah. Tapi tidak  usah gundah, sebab masyarakat setempat membuka pintu rumah mereka bagi tamu  yang datang ke daerah tersebut untuk menyaksikan pesta adat Sayyang Pattudu.  Begitu juga untuk makanan, para wisatawan akan mendapatkan suguhan yang  memuaskan dengan beraneka makanan yang disediakan oleh tuan rumah untuk  menyambut tamu.span>p>

B. PANTAI PHALIPPIS

Jika wisatawan berkunjung ke Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, belum lengkap rasanya jikalau tidak singgah di Pantai Palippis. Pantai yang terletak di sisi jalan umum yang menghubungkan beberapa kota di Provinsi Sulawesi Barat dan berada sekitar 20 km dari Kota Polewali ini memiliki panorama alam yang menarik.
Pantai Palippis menyuguhkan keindahan panorama pantai dengan pemandangan laut lepas. Pantai ini berada di sisi barat Pulau Sulawesi dan berhadapan langsung dengan laut yang memisahkan antara Pulau Sulawesi dengan pulau Kalimantan dan Pulau Jawa. Laut yang membentang luas ini menyuguhkan pemandangan tanpa batas dengan gulungan ombak yang berderu.
Selain keindahan pantai dan pemandangan laut, Pantai Palippis didukung panorama alam yang lain di sekitarnya, seperti gua kelelawar dan hamparan tebing batu karang. Gua kelelawar tersebut terletak di atas bukit yang membentang tidak jauh dari bibir pantai. Sementara itu, hamparan tebing batu karang membentang tidak begitu jauh dari mulut gua kelelawar.

Keistimewaan

Pantai Palippis membentang sepanjang 3 km di sebelah barat Pulau Sulawesi. Hal ini memberikan keleluasaan bagi para wisatawan yang datang ke pantai tersebut untuk bermain, berlarian, atau menyongsong deburan ombak di sepanjang bibir pantai. Dan yang tidak kalah menarik, apalagi bagi kalangan muda-mudi, di pantai ini para wisatawan dapat bercengkrama sembari menyaksikan tenggelamnya matahari di ufuk barat.
Di samping menikmati panorama pantai, para pelancong juga dapat menyaksikan batu karang yang membentuk tebing-tebing curam. Lawuang adalah nama sebuah tebing batu karang yang memanjang di samping kawasan Pantai Palippis. Hamparan batu karang yang langsung menghadap ke laut lepas tersebut memiliki daya tarik eksotik. Apalagi, tebing tersebut berdiri menyerupai ngarai yang curam, berbelok-belok, terjal dengan ketinggian antara 30—80 meter. Tentunya, ini akan menjadi tantangan yang menarik bagi mereka yang mencintai dunia panjat tebing untuk menaklukkan angkuhnya batu karang yang berdiri tinggi menjulang.
Tidak jauh dari bibir pantai atau di sebelah tebing, terdapat sebuah gua yang dihuni oleh ribuan kelelawar. Kawasan tersebut menjadi satu dengan Pantai Palippis, sehingga para wisatawan dapat menikmati panorama gua tersebut sembari berwisata pantai dengan hanya satu kali bayar saja.
Yang lebih menyenangkan lagi, ketika mengunjungi pantai ini wisatawan dapat melihat dari dekat pembuatan perahu sandeq khas masyarakat suku Mandar. Para wisatawan dapat mengetahui secara lengkap proses pembuatan perahu dari para pengrajin di sentra-sentra pembuatan perahu sandeq.

Lokasi

Objek wisata Pantai Palippis terletak di Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, Indonesia.

Akses

Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan dilanjutkan ke Kota Polewali, Ibu Kota Kabupaten Polewali Mandar dengan waktu tempuh kira-kira 1 jam 30 menit dengan menggunakan angkutan umum (bus) atau mobil pribadi. Setelah sampai di Kota Polewali, kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pantai Palippis menggunakan angkutan kota dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Tidak jauh dari bibir pantai terdapat pondokan kecil tempat bersantai bagi wisatawan yang lelah sehabis bermain. Tidak jauh dari pondokan tersebut terdapat beberapa kamar mandi dan WC yang dapat dimanfaatkan untuk mandi setelah selesai berenang di laut atau setelah bermain pasir. Bagi para wisatawan yang datang ke Pantai menggunakan mobil pribadi, tersedia area parkir yang cukup luas.
Untuk kebutuhan makan dan minum, di sekitar bibir pantai terdapat beberapa warung yang menyediakan menu makanan tradisional setempat, seperti buras tarrean, jepa tarrean, songkolo tarrean, bubur tarrean, serta ikan bakar.

C. Perahu Sandeq

Sandeq merupakan sebutan untuk perahu layar tradisional khas masyarakat suku Mandar, yang sentra pembuatannya terdapat di Desa Bala, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Perahu ini memiliki panjang lambung sekitar 7—11 meter dan lebar 60—80 sentimeter, dan di samping kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. Dilihat secara sekilas, perahu ini terkesan rapuh dan mudah rusak ketika melawan ombak. Tetapi, kenyataannya perahu sandeq punya kekuatan yang luar biasa. Tercatat pada masa lampau, perahu tersebut mampu berlayar ke beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai ke Madagaskar. Menurut Horst H Liebner, peneliti sandeq asal Jerman, perahu sandeq merupakan perahu tradisional tercepat yang pernah ada di Austronesia. Perahu ini juga dikenal memiliki ketangguhan dalam menghadapi angin dan gelombang saat mengarungi laut lepas.
Hal ini menunjukkan, bahwa para pembuat perahu sandeq sangat cermat dalam merancang dan membuat perahu ini. Hal tersebut tidaklah berlebihan, karena masyarakat suku Mandar sangat memperhatikan proses pembuatannya dengan baik. Misalnya, pembuatan tiap perahu membutuhkan waktu antara 1,5 sampai 2 bulan. Karena lamanya waktu pembuatan tersebut, maka perahu yang dihasilkan pun memiliki kualitas yang bagus.
Perahu Sandeq umumnya digunakan oleh masyarakat suku Mandar untuk menangkap ikan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat perlahan-lahan beralih menggunakan perahu bermesin. Kondisi tersebut membuat keberadaan perahu sandeq mulai tergeser dari masyarakat suku Mandar. Hal itu juga berimbas pada para pengrajin perahu sandeq yang ada di sentra pembuatan perahu tersebut. Para pengrajin mulai kehilangan mata pencaharian karena pesanan pun mulai sepi. Terkadang pada waktu-waktu tertentu para pengrajin terpaksa sementara beralih profesi guna mencukupi kebutuhan hidup keluarga mereka.
Selain digunakan untuk menangkap ikan, perahu sandeq juga digunakan untuk perlombaan yang diadakan sekali setahun di Pantai Manakarra Provinsi Sulawesi Barat tepat pada tanggal 17 Agsutus yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekan RI. Biasanya, menjelang perlombaan pesanan kembali mengalir ke sentra pembuatan perahu sandeq baik dari masyarakat Sulawesi Barat maupun dari luar daerah, bahkan ada juga yang datang dari luar negeri, seperti Australia, Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Hal ini, tentunya membangkitkan kembali geliat usaha pembuatan perahu sandeq. Para pengrajin kembali bersemangat untuk membuat perahu. Terkadang para pengrajin menambah tenaga baru untuk pembuatan perahu agar dapat menyelesaikan pesanan tepat pada waktunya.

Keistimewaan

Pembuatan perahu sandeq tergolong unik, mulai dari awal sampai akhir. Proses pembuatan perahu dimulai dengan pemilihan bahan baku. Biasanya masyarakat setempat memilih jenis pohon kanduruang mamea yang sudah berumur tua. Jenis pohon ini jikalau sudah tua bila diolah untuk berbagai keperluan bisa bertahan lama dari segala terpaan cuaca. Pemilihan pohon yang berumur tua juga dikaitkan dengan perhatian masyarakat suku Mandar terhadap lingkungan dan alam sekitarnya dan menghindari penebangan tidak beraturan yang dapat menyebabkan rusaknya ekosistem hutan. Dengan cara ini, kelestarian alam tetap terjaga dan masyarakat terbebas dari ancaman bencana.

Proses penebangan pohon
Sumber Foto: www.panyingkul.com – Muhammad Ridwan Alimuddin
Agar selama kegiatan penebangan pohon masyarakat mendapat izin dan restu dari alam dan penghuni hutan, maka dilakukan bebarapa ritual pembacaan doa dan mantra yang dipanjatkan pada makhluk halus dalam rangka membersihkan lokasi penebangan kayu. Ritual ini dilakukan di sekitar pohon yang hendak ditebang agar masyarakat terbebas dari gangguan jin dan makhluk halus. Kegiatan ini dilakukan pada saat pemilihan dan penentuan pohon yang hendak ditebang. Pesan yang disampaikan melalui ritual ini adalah pohon yang hendak ditebang dan akan digunakan haruslah bersih, baik secara lahir maupun secara spiritual.
Selanjutnya, ritual pembacaan doa dan mantra yang khusus ditujukan bagi penghuni hutan dan pohon agar memberi izin pada mereka untuk mengambil pohon. Kemudian dilanjutkan dengan ritual pembacaan doa dan mantra untuk memohon kesediaan pada si pohon untuk ditebang. Setelah selesai, maka dilanjutkan dengan membaca doa dan mantra untuk membuat batang kayu menjadi lunak agar mudah ditebang. Ini dilakukan sebelum batang kayu dirobohkan menggunakan alat, seperti gergaji atau kapak. Ritual diakhiri dengan pembacaan doa dan mantra memohon izin pada penunggu hutan agar merelakan kayu yang telah diolah untuk dibawa keluar dari hutan.
Pembuatan perahu biasanya melewati beberapa tahap dan tiap-tiap tahapan dikerjakan dengan hati-hati agar hasilnya sempurna. Ada beberapa tahapan yang dilaksanakan pada pembuatan perahu, di antaranya tahap persiapan, pemotongan kayu, pembuatan calon perahu, dan pembuatan perahu. Pada tahap persiapan ini, para pengrajin biasanya terlebih dahulu mempersiapkan beberapa kebutuhan, seperti pemilihan peralatan yang digunakan, menghubungi orang yang ahli dalam bidang pembuatan perahu, dan pemilihan pohon yang akan ditebang untuk bakal perahu. Tahap yang paling lama adalah pemilihan dan penebangan kayu sebelum diolah menjadi bakal perahu. Hal ini berhubungan dengan tradisi masyarakat setempat untuk menghormati pohon, sehingga acara ritual dan upacara adat berlangsung cukup panjang bila dibandingkan dengan proses penebangan dan pengolahan kayu itu sendiri.

Selesai pembuatan bakal Perahu
Sumber Foto: www.panyingkul.com – Muhammad Ridwan Alimuddin
Sebelum pembuatan perahu, masyarakat setempat atau para pengrajin bermusyawarah untuk menentukan waktu yang tepat guna melaksanakan rencana tersebut. Biasanya, mereka memilih waktu yang dianggap baik, yaitu hari ke-15 berdasarkan kalender Hijriah (kalender Islam). Masyarakat suku Mandar meyakini waktu itulah saat yang tepat untuk memulai proses pembuatan perahu.
Pembuatan perahu sandeq juga diiringi dengan aneka ritual, seperti ritual adat dan pembacaan mantra-mantra selama berlangsungnya pembuatan perahu. Biasanya, masyarakat setempat melakukan hal itu dengan harapan agar proses pembuatan perahu bisa berjalan dengan lancar dan mereka terbebas dari bencana. Prosesi pembacaan doa dan mantra tersebut, berkaitan erat dengan tata krama manusia terhadap alam semesta, penghuni hutan, dan penunggu pohon (menurut keyakinan masyarakat suku Mandar).

Lokasi

Para pengrajin yang membuat perahu sandeq dapat dijumpai di Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, Indonesia.

Akses

Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kota Polewali Ibu Kota Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit. Setelah sampai di Kota Polewali, kemudian perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang berjarak sekitar 20 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi.

Harga Tiket

Tidak dipungut biaya.
Info HOTEL  di Polewali Mandar:
  1. Hotel Ratih GUEST HOUSE MELATI Jl. Achmad Yani No. 91 Polewali  (62-428 ) 213 57
  2. Hotel Lilianto Jl. Achmad Yani  di  Polewali
  3. WISMA DIRJA Jl. Olahraga No. 16 Polewali     (62-428 ) 212 92
  4. MAMASA COTTAGE Jl. Mamasa Polewali
  5. LOSMEN MERY Jl. Mesjid Jami No. 5 Polewali. (62-428 ) 211 44 POLEWALI
  6. INDAH HOTEL Jl. Mangundang No. 30 Polewali     (62-428 ) 214 37.
  7. Dan beberapa hotel Lain disekitar Pusat Perkantoran Pemerintah Polewali dan juga Pusat Perdagangan Wonomulyo  yang jaraknya dari Polewali sekitar 20 menit.

Bhalanipa Mandar. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered by Blogger